
Dr. Zuhairansyah Arifin, M.Ag.
Ka. Prodi PIAUD
INDAHNYA BERBAGI DI BULAN MUBARAK
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Swt, yang telah mempertemukan orang beriman bulan suci Ramadan, bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Shalawat dan salam, tercurah kepada baginda junjungan Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah…
Dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam al-Ghazali dikisahkan:
Ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim. Pada suatu malam ketika akan shalat tahajjud, ia berjalan menuju ke sebuah sumur untuk berwudhu’, dan alangkah terkejutnya ketika di dekat sumur ia melihat sesosok makhluk, lalu ia bertanya : Siapa kamu, makhluk itu menjawab: Saya adalah Malaikat yang sengaja diutus Allah kesini. Abu bin Hasyim melihat Malaikat membawa sebuah catatan dan bertanya: catatan apakah itu hai Malaikat? Maka Malaikat pun menjawab: Ini adalah catatan amal kebaikan hamba Allah yang kelak akan masuk syurga. Lalu Abu bin Hasyim, memohon kepada Malaikat coba tengokkan nama saya di sana tentu saya termasuk salah satu dalam deretan ahli syurga tersebut. Lalu Malaikat melihat dan membaca satu persatu, dan pada akhirnya tidak menemukan nama Abu bin Hasyim. Kemudian Abu bin Hasyim mengatakan: mungkin ada yang salah, bukankah saya selalu shalat dhuha dan tahajjud sepanjang malam. Lalu kenapa nama saya tidak tercantum di dalamnya. Memang engkau adalah ahli ibadah yang selalu menjaga tahajjud dan dhuha, berdzikr kepada Allah sepanjang hari, tetapi semua ibadahmu itu adalah untuk dirimu. Engkau lupa berinteraksi dengan masyarakatmu. Engkau gagal dalam muamalahmu. Ada orang miskin di sekitarmu, tapi engkau tidak pernah melihatnya. Ada orang kelaparan tapi engkau tak pernah menghampirinya. Ada orang sakit tapi engkau tidak pernah menjenguknya.
Makna yang terkandung dalam kisah ini adalah:
Dalam kehidupan ini, seseorang boleh jadi dikenal sebagai ahli ibadah—rajin shalat, tekun membaca Al-Qur’an, gemar berzikir, dan istiqamah dalam berbagai amalan sunnah. Namun, kesalehan ritual semata tidaklah cukup apabila tidak diiringi dengan kesalehan sosial. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal kepada Allah (ḥablum minallāh), tetapi juga hubungan horizontal kepada sesama manusia (ḥablum minannās), bahkan hubungan dengan alam semesta (hablum minal ‘alam). Makanya Allah Swt mengingatkan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3). Ayat ini menjadi teguran keras bahwa ibadah yang tidak melahirkan kepedulian sosial dapat kehilangan maknanya. Seseorang bisa saja khusyuk dalam shalatnya, tetapi apabila ia menutup mata terhadap penderitaan fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan, maka ada yang belum sempurna dalam penghayatan agamanya. Bulan Ramadan hadir sebagai madrasah ruhani yang menyempurnakan dimensi tersebut. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merasakan lapar yang biasa dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan. Dari rasa lapar itulah tumbuh empati, dari empati lahirlah kepedulian, dan dari kepedulian terwujudlah tindakan nyata untuk membantu. Rasulullah saw adalah teladan terbaik. Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari disebutkan bahwa beliau adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa puncak ibadah justru melahirkan puncak kepedulian sosial.
Menjadi ahli ibadah sejati bukan hanya soal panjangnya sujud dan banyaknya zikir, tetapi juga sejauh mana kita hadir dalam kehidupan masyarakat—menolong yang kesulitan, menguatkan yang lemah, serta berbagi dengan yang membutuhkan. Ramadan adalah momentum untuk menyeimbangkan keduanya: memperkuat hubungan dengan Allah dan sekaligus memperluas manfaat bagi sesama. Ramadan bukan sekadar bulan peningkatan kuantitas ibadah, tetapi bulan pengujian kualitas dan penerimaan ibadah itu sendiri. Banyak orang mampu memperbanyak shalat, tilawah, sedekah, dan qiyamullail. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: “apakah ibadah itu benar-benar diterima oleh Allah?” Salah satu tanda diterimanya ibadah bukan hanya terasa dalam kekhusyukan pribadi, tetapi tercermin dalam perubahan sikap sosial. Ibadah yang diterima akan melahirkan akhlak yang lebih lembut, hati yang lebih peka, dan kepedulian yang semakin luas.
Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah yang benar akan berdampak pada perilaku sosial. Jika setelah Ramadan seseorang tetap keras hati, enggan berbagi, dan abai terhadap kesulitan orang lain, maka patutlah ia bermuhasabah atas kualitas ibadahnya. Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Shahih Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi memperbaiki karakter dan hubungan sosial. Puasa yang diterima akan menjadikan seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih peduli, oleh sebab itu, tanda keberhasilan Ramadan dapat dilihat dari lingkungan masyarakat. Masjid semakin makmur, silaturahmi semakin erat, pertengkaran berkurang, sedekah meningkat, dan kepekaan sosial tumbuh subur. Individu yang ibadahnya meningkat akan membawa dampak positif bagi keluarganya, tetangganya, bahkan masyarakat luas. Jika Ramadan telah membentuk pribadi yang lebih dermawan, lebih mudah memaafkan, dan lebih ringan menolong sesama, maka itulah pertanda bahwa ibadahnya bukan sekadar rutinitas, tetapi ibadah yang menyentuh hati dan insyaAllah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Waalahu A’lam bi al-Showab).
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Website Resmi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau